Senin, 18 Januari 2016

MACAM-MACAM TEKHNIK PENYUNTIKAN

MACAM-MACAM CARA (TEKHNIK) PENYUNTIKAN

1. SUNTIKAN INTRAVENA (I.V)
            Pengertian : Penyuntikan obat suntikan ke dalam pembuluh darah vena.
            Lokasi: Pada vena-vena anggota gerak.
            Sudut : 15-30 º
  • Bersihkan tempat penyuntikan dengan kapas alkohol
  • Pasang manset turniquit di sekeliling lengan atas
  • Palpasi atau pegang daerah yang akan disuntik
  • Tusukkan jarum syringe secara miring sambil meyusuri vena yang akan di tusuk
  • Tarik perlahan pendorong syiringe dan lakukan aspirasi untuk memerikasa apakah jarum sudah benar masuk ke pembuluh vena.Jika tampak darah berarti jarum sudah menembus vena.Jika belum terlighat darah susuri sampai berhasil.
  • Jika sudah tampak darah lepasskan turniquet lalu injeksikan cairan dalam syiringe dengan cara menekan pendorong syiringe secara perlahan
  • Setelah cairan dalam syiringe sudah habis cabut jarum perlahan kemudian kulit bekas tusukan di tutup dengan kapas alkohol.kemudian di plester.
  
2. SUNTIKAN INTRACUTAN (I.C)        
            Pengertian : Penyuntikan obat ke dalam jaringan kulit
            Lokasi: Pada lengan bawah bagian dalam atau ditempat yang dianggap perlu.
            Sudut : 15-20 º
  • Bersihkan daerah penyuntikan dengan kapas alkohol
  • Regangkan daerah kulit yang akan di tusuk.tusukkan ujung jarum dalam posisi 10o. Posisi lubang jarum mengarah ke permukaan atass.
  • Posisikan jarum sejajar dengan kulit sampai jarum menembus lapisan antara stratum corneum.
  • Panjang jarum tidak perlu sepenuhnya di tusukkan, sesuai kebutuhan saja.
  • Jika sudah yakin jarum berada pada letaknya(diantara lapisan kulit) larutan boleh di injeksikan
  • Jika posisi sudah benar maka permukaan kulit akan tampak menggembung atau bengkak.
  • Setelah semua larutan di injeksikan jarum dicabut perlahan dan kulit bekas tusukan dibersihkan menggunakan kapas alkohol.
                            
3. SUNTIKAN INTRAMUSKULAR (I.M)
Pengertian : Penyuntikan obat ke dalam jaringan otot (nutscolus)
Lokasi : - Pada otot pangkal lengan.
 - Pada otot paha bagian luar yaitu 1/3 tengah pada sebelah luar
 - Pada otot bokong yang tepat adalah 1/3 bagian dari sina iliaca anterior     superior (S.I.A.S)
            Sudut : 90 º
  • Bersihkan tempat penyuntikan dengan kapas alkohol
  • Palpasi atau pegang daerah yang akan disuntik
  • Tusukkan jarum suntik dalam posisi 90o atau tegak lurus, tindakan harus tepat dan cepat.
  • Setelah jarum sepenuhnya masuk, lepas pengangan tangan anda
  • Tarik perlahan pendorong syringe,pastikan jarum masuk ke otot bukan pembuluh darah.Jika keluar darah maka itu masuk ke intravena.Segera cabut, daerah bekas tusukan di tekan dengan kapas alkohol.Lalu lakukan in jeksi lagi di lokasi lain dengan menggunakan Jarum yang baru.
           
4. SUNTIKAN SUBCUTAN (S.C)
Pengertian : Penyuntikan obat di bawah kulit, misal : penyuntikan insulin pada pasien DM.
            Lokasi  : - Pada lengan atas sebelah luar.
  - Pada pahaa bagian luar.
                          - Daerag dada
            Sudut : 45 º
  • Bersihkan kulit yang akan disuntik dengan kapas alkohol
  • Pegang daerah kulit yang akan di suntik, kemudian tusuk ujung jarum dalam posisi miring 45o
  • Jika jarum sudah masuk semua, lepaskan pegangan tangan anda
  • Jika sudah yakin jarum masuk ke subcutan larutan obat yg ada dalam syringe boleh di injekkan
  • Setelah selesai, jarum dicabut secara perlahan dan kulit bekas tusukan ditekan dengan kapas alkohol
Lokasi penyuntikan sucutan
  1. Di paha bawah bagian depan
  2. Di perut bagian bawah umbilicus

 Demikian ulasan Macam - macam Cara (Tekhnik) Penyuntikan, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Sabtu, 16 Januari 2016

Cara Mudah Menghitung Masa Subur

Pengertian

Hamil adalah suatu masa dari mulai terjadinya pembuahan dalam rahim seorang wanita sampai bayinya dilahirkan. Kehamilan terjadi ketika seorang wanita melakukan hubungan seksual pada masa ovulasi atau masa subur dan sperma pria pasangannya akan membuahi sel telur matang wanita tersebut. Kehamilan adalah suatu hal yang ditunggu-tunggu bagi pasangan suami isteri yang mendambakan hadirnya seorang anak di keluarganya.
Cara Menghitung Masa Subur
Dengan hadirnya buah hati, keluarga akan penuh dihiasi oleh gelak canda tawa anak, suara riang anak, keluarga terasa semakin "hidup" dan yang terpenting keluarga terasa makin lengkap. Namun, ada kalanya pasangan suami isteri merasa kecewa karena kehamilan yang ditunggu-tunggu tidak jua kunjung datang. Sulitnya untuk hamil tersebut sampai-sampai menimbulkan stress yang mendalam pada pasangan suami isteri.

Banyak kendala yang membuat mereka sulit untuk mendapatkan kehamilan di mulai dari masalah Kesuburan, tingkat psikologi mereka, disfungsi hormon, dll. Namun ada kalanya kehamilan tidak mereka dapatkan karena mereka tidak tepat melakukan hubungan seksual. Mereka tidak mengetahui, kapan memasuki masa subur wanita sehingga kesempatan untuk terjadi ovulasi semakin besar.
Masa subur sangat besar artinya bagi mereka yang menginginkan hamil dan bagi yang ingin menunda kehamilan.

Bagi yang menginginkan kehamilan, masa subur bisa dijadikan patokan untuk melakukan hubungan seksual karena saat ini ovulasi sedang terjadi sehingga kemungkinan hamil sangat besar. Sedangkan bagi yang mau menunda kehamilan, masa subur merupakan masa yang harus dihindari untuk mencegah terjadinya kehamilan. Banyak cara dan metode yang dapat digunakan untuk mengetahui kapan masa subur tersebut, yaitu:

Sistem kalender.
Menentukan masa subur dengan menggunakan sistem kalender ada dua cara yaitu :

Menghitung Masa Subur Dengan Siklus Haid Teratur 
Bagi yang siklus haidnya teratur, masa subur berlangsung 14 +/- 1 hari haid berikutnya. Artinya masa subur berlangsung pada hari ke 13 sampai hari ke 15 sebelum tanggal haid yang akan datang.

Menghitung Masa Subur Dengan Siklus Haid Tidak Teratur
 Bagi yang siklus haidnya tidak teratur maka pertama tama harus dicatat panjang siklus haid sekurang kurangnya selama 6 siklus. Dari jumlah hari pada siklus terpanjang, dikurangi dengan 11 akan diperoleh hari subur terakhir dalam siklus haid tersebut. Sedangkan dari jumlah hari pada siklus terpendek dikurangi 18, diperoleh hari subur pertama dalam siklus haid tersebut. Misal : siklus terpanjang = 31, sedangkan siklus terpendek = 26, maka masa subur dapat dihitung, 31 - 11 = 20, dan 26 -18 = 8, jadi masa subur berlangsung pada hari ke 8 sampai hari ke 20.

Untuk lebih memudahkan mendapat informasi masa subur dengan sistem kalender bisa menggunakan alat yang bernama kalender kehamilan (pregnancy wheel). Dengan alat ini anda dapat menentukan masa subur anda, kapanpun dan dimanapun. Selain masa subur, kalender kehamilan ini juga dapat menghitung 17 manfaat informasi penting lainnya selama kehamilan, seperti mengetahui perkembangan berat dan panjang janin, kapan hari perkiraan lahir, kapan batas maksimum 

Prinsip 6 Benar dalam Pemberian Obat

Prinsip 6 Benar Dalam Pemberian Obat

6 tepat pemberian obat


Prinsip 6 benar dalam pemberian obat - Dalam pemberian obat kita harus benar - benar memperhatikan 6 benar dalam pemberian obat yang diantaranya meliputi:
1.    Benar obat
Sebelum memberikan obat kepada pasien kita harus memperhatikan jenis obat apa yang akan diberikan, apakah sudah sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh pasien. Obat harus dicocokkan dengan rekam medis terlebih dahulu untuk memastikan kalau obat sudah sesuai dengan kebutuhan pasien. Jika kita meragukan obat yang didapat maka kita harus konfirmasi dulu kepada apoteker mengenai kandungan obat tersebut.
2.    Benar dosis
Selain memperhatikan jenis obat kita juga harus memperhatikan dosis yang sesuai dengan pasien, karena setiap pasien dosis yang diberikan berbeda-beda sesuai kondisi pasien. Untuk menentukan dosis pasien kita harus mengetahui usia dan juga Berat Badan pasien.
3.    Benar orang
sebelum kita menuju ruangan pasien untuk memberikan obat kita harus melihat kembali label pada obat dan rekam medis apakah sudah sesuai jangan sampai waktu memberikan obat kita salah pasien, karena itu bisa mengancam keselamatan pasien. Setelah sampai ruangan pasien ebelum obat diberikan kita juga harus klarifikasi lagi data yang ada pada obat dengan data pasien mulai dari nama, usia, jenis kelamin, daerah asal, dan juga nama dokter untuk memastikan lagi. Jika semua data sudah sama baru obat bisa diberikan pada pasien.
4.    Benar cara pemberian
Waktu kita menyiapkan obat kita harus memperhatikan cara pemberian obat, karena cara pemberian obat ada beberapa maca sesuai dengan keadaan pasian. Cara pemberian obat diantaranya:
·   Oral : obat diberikan dengan diminum langsung oleh pasien
·  parenteral : dalam mmberikan obat parenteralseperti, injeksi kita juga harus memperhatikan injeksi apa yang bisa diberikan, karena injeksi ada beberapa macam. Seperti injeksi subcutan, intracutan, IM, IV.
·   topikal : obat yang diberikan melalui kulit seperti saleb, lotions, obat mata.
·   Rektal : obat yang diberikan lewat rektum atau anus seperti obat suposutoria.
·  Inhalasi : obat yang diberikan dengan cara diuap, biasanya diberikan pada pasien dengan gangguan pernafasan.
5.    Benar waktu
Saat menyiapkan obat kita harus melihat rekam medis pasien pada saat ini obat apa saja yang diprogramkan dan harus diberikan saat ini. Mengingat reaksi dan kerja setiap obat tidak sama maka kita harus memperhatikan waktu dalam memberikan obat.
6.    Benar dokumentasi
Setelah kita memberikan obat segera catat dokumentasi nama pasien, usia, jenis kelamin, BB, nama obat, dosis, cara pemberian, waktu pemberian, dan jangan lupa catat nama perawat yang memberikan obat. Jika ada obat yang belum berhasil diberikan pasien harus dicatat juga beserta alasannya kenapa.

CARA PEMASANGAN DAN PELEPASAN KATETER

CARA PEMASANGAN DAN PELEPASAN KATETER


 Cara Pemasangan Kateter
1. Definisi
• Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan
• Kateter terutama terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, woven silk dan silikon
• Kandung kemih adalah sebuah kantong yan
g berfungsi untuk menampung air seni yang be rubah-ubah jumlahnya yang dialirkan oleh sepasang ureter dari sepasang ginjal
• Kateterisasi kandung kemih adalah dimasukkannya kat
eter melalui urethra ke dalam kandung kemih untuk mengeluarkan air seni atau urine.

2. Tujuan
• Untuk segera mengatasi distensi kandung ke
mih
• Untuk pengumpulan spesimen urine
• Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih
• Untuk mengosongkan kandung kemih sebelu
m dan selama pembedahan

3. Prosedur

A. Alat 
1. Set tromol steril
2. Gass steril
3. Deppers steril
4. Handscoen
5. Cucing
6. Neirbecken
7. Pinset anatomis
8. Doek
9.
Set Kateter steril sesuai ukuran yang dibutuhkan
10. Tempat spesimen urine jika diperlukan
11. Urinebag
12. Perlak dan pengalasnya
13. Disposable spuit
14. Selimut

B. Obat
a. Aquadest
b. Bethadine
c. Alkohol 70 %

C. Petugas
a. Pengetahuan dasar tentang anatomi dan fisio
logi dan sterilitas mutlak dibutuhkan dalam rangka tindakan preventif memutus rantai penyebaran infeksi nosokomial
b. Cukup ketrampilan dan berpengalaman untuk melakukan tindakan dimaksud
c. Usahakan jangan sampai menyinggung perrasaa
n penderita, melakukan tindakan harus sopan, perlahan-lahan dan berhati-hati
d. Diharapkan penderita telah menerima penj
elasan yang cukup tentang prosedur dan tujuan tindakan

D. Penderita
Penderita telah mengetahui dengan jelas segala ses
uatu tentang tindakan yang akan dilakukan penderita atau keluarga diharuskan menandatangani informed consent

E. Penatalaksanaan1. Menyiapkan penderita : untuk penderita laki
-laki dengan posisi terlentang sedang wanita dengan posisi dorsal recumbent atau posisi Sim

2. Aturlah cahaya lampu sehingga didapatkan vis
ualisasi yang baik

3. Siapkan deppers dan cucing , tuangkan bethadine 
secukupnya

4. Kenakan handscoen dan pasang doek lubang pada genetalia penderita

5. Mengambil deppers dengan pinset dan mencelupk
an pada larutan bethadine

6. Melakukan desinfeksi sebagai berikut :

Pada penderita laki-laki : Penis dipegang d
an diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan urethra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan. desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Pada saat melaksanakan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan memegang pinset dan dipertahankan tetap steril.

Pada penderita wanita : Jari tangan kiri membu
ka labia minora, desinfeksi dimulai dari atas (clitoris), meatus lalu kearah bawah menuju rektum. Hal ini diulang 3 kali . deppers terakhir ditinggalkan diantara labia minora dekat clitoris untuk mempertahankan penampakan meatus urethra.

7. Lumuri kateter dengan jelly dari ujung mer
ata sampai sepanjang 10 cm untuk penderita laki-laki dan 4 cm untuk penderita wanita. Khusus pada penderita laki-laki gunakan jelly dalam jumlah yang agak banyak agar kateter mudah masuk karena urethra berbelit-belit

8. Masukkan katether ke dalam meatus, bersamaan dengan itu penderita diminta untuk menarik nafas dalam.

Untuk penderita laki-laki : Tangan kiri memeg
ang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderita menarik nafas dalam. Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan. Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 5 – 7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm.




Untuk penderita wanita : Jari tangan kiri mem
buka labia minora sedang tangan kanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam . kaji kelancaran pemasukan kateter, jik ada hambatan kateterisasi dihentikan. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18 – 23 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm.


9. Mengambil spesimen urine kalau perlu

10.Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai

11.Memfiksasi kateter :
Pada penderita laki-laki kateter difiksasi dengan plester pada abdomen
Pada penderita wanita kateter difiksasi dengan plester pada pangkal paha

12.Menempatkan urinebag ditempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih

13.Melaporkan pelaksanaan dan hasil tertulis pada status penderita yang meliputi :
• Hari tanggal dan jam pemasangan kateter
• Tipe dan ukuran kateter yang digunakan
• Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan
• Nama terang dan tanda tangan pemasang

Melepas Kateter

            Melepas drainase urine pada klien yang dipasang kateter.
 Tujuan:
            Melatih klien berkemih secara normal tanpa menggunakan kateter.
 Peralatan  :
a)      Sarung tangan
b)      Pinset
c)      Spuit
d)      Batadine
e)      Bengkok 2 buah
f)        Plester
g)      Bensin
h)      Lidi wetan
Prosedur:
a)      Meberitahu pasien
b)      Mendekatkan alat
c)      Memasang sampiran
d)      Mencuci tangan
e)      Membuka plester dengan bensin
f)        Memakai sarung tangan
g)      Mengeluarkan isi balon kateter dengan spuit
h)      Menarik kateter dan anjurkan pasien untuk tarik nafas panjang, kemudian letakkan kateter pada bengkok.
i)        Olesi area preputium(meatus,uretra) dengan betadin
j)        Membereskan alat
k)      Melepaskan sarung tangan
l)        Mendokumentasikan.
 (Ambarwati dan Sunarsih;2009).

Jumat, 15 Januari 2016

Cara Pemasangan Infus Yang Baik & Benar Kepada Pasien

Cara Pemasangan Infus Yang Baik & Benar Kepada Pasien


Definisi
Terapi intravena adalah tindakan yang dilakukan dengan cara memasukkan cairan, elektrolit, obat intravena dan nutrisi parenteral ke dalam tubuh melalui intravena


Tujuan Utama Terapi Intravena:
1. Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
2. Memberikan obat-obatan dan kemoterapi
3. Transfusi darah dan produk darah
4. Memberikan nutrisi parenteral dan suplemen nutrisi
Pertama
Cuci tangan di air mengalir
Mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan

PERSIAPAN
I. Persiapan Klien
- Cek perencanaan Keperawatan klien
- Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan
II. Persiapan Alat
- IV Catheter (Abocath) sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan
- Infus set sesuai ukuran
- Cairan infus sesuai kebutuhan klien
- Standard infus (kolf)
- Torniquet (Tali pembendung)
- Kapas alkohol 70 % dalam tempatnya
- Betadine dalam tempatnya (kom kecil)
- Sarung tangan bersih
- Kassa steril
- Plester
- Bengkok (nierbekken)
- Gunting verband
- Perlak
- Spalk bila perlu (untuk anak-anak)

Kemudian bawa alat-alat ke dekat klien

PELAKSANAAN
- Perawat cuci tangan
- Memberitahu tindakan yang akan dilakukan dan pasang sampiran
- Mengisis selang infus
- Membuka plastik infus set dengan benar
- Tetap melindungi ujung selang seteril
- Menggantungkan infus set dengan cairan infus dengan posisi cairan infus mengarah keatas
- Menggantung cairan infus di standar cairan infus
- Mengisi kompartemen infus set dengan cara menekan ( tapi jangan sampai terendam )
- Mengisi selang infus dengan cairan yang benar
- Menutup ujung selang dan tutup dengan mempertahankan keseterilan
- Cek adanya udara dalam selang
- Pakai sarung tangan bersih bila perlu
- Memilih posisi yang tepat untuk memasang infus
- Meletakan perlak dan pengalas dibawah bagian yang akan dipungsi
- Memilih vena yang tepat dan benar
- Memasang torniquet
- Desinfeksi vena dengan tekhnik yang benar dengan alkohol dengan tekhnik sirkuler atau dari atas ke        bawah sekali hapus
- Buka kateter ( abocath ) dan periksa apakah ada kerusakan
- Menusukan kateter / abocath pada vena yang telah dipilih dengan apa arah dari arah samping
- Memperhatikan adanya darah dalam kompartemen darah dalam kateter, bila ada maka mandrin sedikit demi sedikit ditarik keluar sambil kateter dimasukan perlahan-lahan
- Torniquet dicabut
- Menyambungkan dengan ujung selang yang telah terlebih dahulu dikeluarkan cairannya sedikit, dan sambil dibiarkan menetes sedikit
- Memberi plester pada ujung plastik kateter / abocath tapi tidak menyentuh area penusukan untuk fiksasi
- Membalut dengan kassa bethadine seteril dan menutupnya dengan kassa seteril kering
- Memberi plester dengan benar dan mempertahankan keamanan kateter / abocath agar tidak tercabut
- Pasang spalk bila perlu (biasanya pada pasien anak-anak)
- Mengatur tetasan infus sesuai dengan kebutuhan klien
- Rapikan klien, Alat-alat dibereskan dan perhatikan respon klien
- Perawat cuci tangan
- Catat tindakan yang dilakukan

EVALUASI
- Perhatikan kelancaran infus, dan perhatikian juga respon klien terhadap pemberian tindakan

DOKUMENTASI
Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon klien terhadap pemasangan infus, cairan dan tetesan yang diberikan, nomor abocath, vena yang dipasang, dan perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan.